Rahasia Mahkota Dewa
A. Mahkota dewa
Mahkota dewa atau (phaleria macrocarpa) adalah tanaman yantg biasa menyembuhkan
berbagai penyakit ganas. Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup
melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan
pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada
organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat.
Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh “teh
racik” terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan
obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita
bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya
ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.
Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari
daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta
dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya
raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara,
orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.
Untuk lebih rinci lihatlah di bawah ini :
“MAHKOTA DEWA”
(Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl.)
Sinonim :
P. papuana Warb. var. Wichnannii (Val.) Back
Familia :
Thymelaeaceae
Mahkota dewa bisa ditemukan/ditanam di pekarangan sebagai tanaman hias atau di
kebun-kebun sebagai tanaman peneduh. Menilik nama botaninya Phaleria papuana,
banyak orang yang memperkirakan tanaman ini populasi aslinya dari tanah papua
Irian Jaya. Disana memang bisa ditemukan tanaman ini. Mahkota dewa tumbuh subur
ditanah yang gembur dan subur pada ketinggian 10-1200 mdpl.
Perdu menahun ini tumbuh tegak dengan tinggi 1-2,5 m. Batangnya bulat,
permukaannya kasar, warnanya cokelat, berkayu dan bergetah, percabangan
simpodial. Daun tunggal, letaknya berhadapan, bertangkai pendek, bentuknya
lanset atau jorong, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip,
permukaan licin, warnya hijau tua, panjang 7-10 cm, lebar 2-5 cm. Bunga keluar
sepanjang tahun, letaknya tersebar di batang atau ketiak daun, bentuk tabung,
berukuran kecil, berwarna putih dan harum.
Buah bentuknya bulat, diameter 3-5 cm, permukaan licin, beralur, ketika muda
warnanya hijau dan merah setalah masak. Daging buah berwarna putih, berserat
dan berair. Biji bulat, keras, berwarna cokelat. Berakar tunggang dan berwarna
kuning kecoklatan. Perbanyakan dengan cangkok dan bijinya.
Bagian-bagian Pohon :
Pohon mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa pohon
perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5—2,5 meter.
Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima
meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya
mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun.
Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya
berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum
terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.
Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulitnya berwarna cokelat kehijauan,
sementara kayunya berwarna putih. Batangnya ini bergetah. Diameternya mencapai
15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Batang ini secara empiris terbukti bisa
mengobati penyakit kanker tulang.
Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong-langsing-memanjang
berujung lancip. Sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih
langsing. Teksturnya pun lebih liat. Warnanya hijau. Daun tua berwarna lebih
gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Permukaan
bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian bawah. Pertumbuhannya
lebat. Panjangnya bisa mencapai 7—10 cm, dengan lebar 3—5 cm. Daun mahkota dewa
termasuk bagian pohon yang paling sering dipakai untuk pengobatan. Pemanfaatannya
dilakukan dengan cara merebusnya. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain
lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor.
Ekstrak air buah mahkota dewa dapat menghambat pertumbuhan sel HeLa (sel kanker
rahim) dengan Inhibitory Concentration (IC50) sebesar 196,74 mg/ml pada sel
kanker orang.
Uji khasiat mahkota dewa sebagai penurun kadar gula darah, juga dilakukan
Lucie. Ia menggunakan ekstrak etanol 70% buah mahkota dewa. Hasilnya, pada
dosis 110mg/200g bb, kadar gula darah pada tikus bakal menurun.
Untuk melihat pengaruh mahkota dewa terhadap kadar asam urat, Lucie mencatat
hasil penelitian Endah Hasturani dari Fakultas Farmasi, Universitas Sanata
Dharma pada 2003. penelitian pada ayam jantan jenis lohman brown umur 2-4
bulan. Hasilnya, perasan daging mahkota dewa punya efek antihiperuresemia,
dengan dosis tengah 13,16g/kg bb. Jadi dengan dosis diatas kadar asam urat
sudah bisa turun.
Untuk menganalisa khasiat mahkota dewa mengatasi eksem, gatal-gatal, penyakit
kulit karena alergi, Sumastuti melakukan uji efek antihistamin dengan ekstrak
air daun dan buah mahkota dewa. Hewan percobaan dipilih marmot. Hasilnya
pemberian 0,5 ml ekstrak dengan konsentrasi 6,25; 12,5; 25; 50; dan 100% dapat
mengurangi kontraksi ileum marmot akibat histamine.
B. Khasiat Mahkota Dewa.
Berbagai macam khasiat Mahkota dewa, mahkota dewa dapat mengobati berbagai
penyakit seperti di bawah ini:
-Diabetes
-Darah tinggi
-Kolesterol
-Asam urat
-Reumatik
-Masuk angin
-Flu tulang
-Jantung
-Kesemutan
-Lever
-Stroke
-Ginjal
-Alergi dan gatal
-Melancarkan darah
-Keputihan
-Ambeien
-Asma
-Sesak nafas
-Maag
-Hepatitis
Dengan cara merubah mahkota dewa yang berwarna merah/yang tua menjadi teh atau
obat.
C. Bagian yang digunakan menjadi obat
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah daun, daging dan kulit
buahnya. Daun dan kulit buah bisa digunakan segar atau ya ng telah dikeringkan,
sedangkan daging buah digunakan setelah dikeringkan.
Indikasi
Kulit buah dan daging buah digunakan untuk :
- Disentri
- psoriasis
-Jerawat
Daun dan biji digunakan untuk pengobatan :
Penyakit kulit, seperti eksim dan gatal-gatal
D. Proses pembuatan
Dijadikan teh
- potong mahkota dewa menjadi irisan kecil-kecil. - lalu dijemur sampai kering.
- Ambil 5-7 irisan mahkotadewa kering, lalu seduh dengan air panas hingga satu
gelas penuh (200ml).
- Bila tidak mengidap penyakit gula (Diabetes) dapat di tambahkan gula jawa
atau gula pasir secukupnya. - Minum secara teratur pagi dan sore hari
masing-masing satu gelas.
Dapat juga diminum sebagai minuman teh biasa untuk menjaga kesehatan dan
kebugaran tubuh anda.
- Diminum untuk mengatasi keluhan / penyakit-penyakit di atas atau ketika badan
terasa meriang / capek dan pegal-pegal.
Contoh pemakaian untuk mengatasi penyakit Disentri. Rebus kulit buah mahkota
dewa yang sudah dikeringkan (15g) dengan dua gelas air sampai mendidih selama
15 menit. Setelah dingin, saring dan minum airnya sekaligus. Lakukan 2-3 kali
sehari.
Untuk mengobati Penyakit Psoriasis. Belah dua mahkota dewa segar (tiga buah),
bijinya dibuang, lalu iris tipis-tipis dan jemur sampai kering. Rebus simplisia
ini dengan satu liter air dengan api besar. Setelah mendidih, kecilkan api dan
rebus sampai airnya tersisa seperempatnya. Setelah dingin, saring dan minum
airnya sehari dua kali, masing-masing separuhnya. Jika timbul gejala keracunan,
turunkan dosis atau hentikan penggunaannya.
Mengatasi eksim dan gatal-gatal. Cuci daun mahkota dewa segar secukupnya, lalu
giling sampai halus. Tempelkan pada bagian yang sakit, lalu balut. Ganti 2-3
kali dalam sehari.
E. Kandungan kimia.
Dalam setiap bagian mahkota dewa memiliki kandungan kimia masing-masing.
Dalam Daun mahkota dewa mengandung zat antihistamin, alkoloid, saponin dan
polifenol (lignan). Sedangkan dalam Kulit buah mengandung alkaloid, saponin dan
flavonoid.
• Alkaloid berfungsi sebagai detoksifikasi yang dapat menetralisir racun-racun
di dalam tubuh.
• Saponin
>> menjadi sumber anti-bakteri dan anti-virus
>> meningkatkan sistem kekebalan tubuh
>> meningkatkan vitalitas
>> mengurangi kadar gula dalam darah
>> mengurangi penggumpalan darah
• Flavanoid
>> melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah terjadinya
penyumbatan pada pembuluh darah
>> mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penumbunan lemak pada
dinding pembuluh darah
>> mengurangi kadar resiko penyakit jantung koroner
>> mengandung anti-inflamasi (anti-radang)
>> berfungsi sebagai anti-oksidan
>> membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau
pembengkakan
• Polifenol berfungsi sebagai anti-histamin (anti-alergi)
Bagian buah, terutama bijinya beracun. Jika buah segar
dimakan langsung, bisa menyebabkan bengkak dimulut, sariawan, mabuk, kejang,
sampai pingsan. Menggunakan dengan dosis berlebihan dalam waktu lama bisa
menimbulkan efek samping, seperti sakit kepala kronis. Ibu hamil dilarang minum
tanaman obat ini.
F. Cara Pembasmian Musuh Alami Mahkota Dewa
Mahkota dewa mempunyai musuh alami berupa hama
pengganggu. Hama
yang biasanya muncul adalah belalang, kutu putih, dan ulat buah. Pemberantasan hama ini jangan
menggunakan pestisida sebab racun atau residu pestisida dapat menempel dan
tertinggal di bagian-bagian pohon. Dikhawatirkan residu ini terbawa atau tidak
hilang ketika mahkota dewa diracik menjadi obat-obatan. Akibatnya, alih-alih
menyembuhkan, malah penyakit tambahan yang didapat.
Pembasmian musuh alami ini sebaiknya menggunakan pestisida buatan sendiri yang
terbuat dari campuran tembakau, mamba, lengkuas, serai, sabun colek, daun
sambiloto, brotowali, bawang putih, dan biji srikaya yang dihancurkan. Jika
tidak semuanya tersedia, beberapa bahan bisa diabaikan. Bahkan, jika susah
mendapatkan semua bahan di atas, biji mahkota dewa itu sendiri bisa
dipergunakan untuk membasminya.
Contoh formula untuk membuat pestisida:
- daun mimba 8 kg
- lengkuas 6 kg
- serai 6 kg
- sabun colek 20 gr
- air 20 lt
Cara membuatnya sebagai berikut. Tumbuk-haluslah daun mimba, lengkuas, dan
serai. Campurkan. Masukkan campuran tersebut ke dalam ember besar. Tambahkan 20
liter air. Aduk sebentar, lalu diamkan selama 24 jam. Keesokan harinya,
saringlah dengan kain halus. Masukkan sabun colek yang telah dilarutkan dengan
sedikit air ke dalam campuran. Setelah itu, tambahkan lagi 60 liter air.
Sebaiknya air yang digunakan adalah air panas atau air hangat. Penggunaan air
panas atau hangat ini akan memperbesar kelarutan bahan aktif dalam air sehingga
pestisida akan bekerja lebih cepat.
Cara mengaplikasikan pestisida buatan itu adalah dengan langsung
menyemprotkannya pada hama
pengganggu, baik yang sendiri maupun yang berkelompok. Penyemprotan sebaiknya
dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif akibat
teriknya matahari. Frekuensi penyemprotan umumnya dilaksanakan dua sampai tiga
kali dengan selang waktu tiga hari.
G. Pemanenan Mahkota Dewa
Dalam memanen mahkota dewa, perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen.
Soalnya, cara memanen setiap bagian pohon mahkota dewa berbeda-beda. Contohnya,
cara memanen daun tidak sama dengan cara memanen buah. Untuk lebih jelasnya,
perhatikan petunjuk umum berikut.
1. Daun yang dipanen adalah daun yang masih segar dan tidak terkena penyakit.
Daun yang dipanen sebaiknya yang sudah cukup tua. Cirinya, bentuknya paling
besar dibandingkan dengan daun lain. Warnanya pun lebih gelap.
2. Buah yang dipanen adalah buah yang sudah benar-benar matang dan sehat atau
tidak terkena penyakit. Cirinya, tampak segar, tidak memiliki cacat sekecil apa
pun, dan berwarna merah marun.
3. Biji yang diambil untuk obat adalah biji dari buah yang sudah benar-benar
matang tadi.
4. Khusus untuk tujuan pengobatan kanker dan lever petiklah buah yang masih
berwarna hijau namun cukup tua, tandanya warna buah hijau tua.
5. Batang. Batang yang diambil adalah batang yang sudah cukup umur. Cirinya,
warna cokelatnya lebih banyak daripada warna hijaunya.
H. Budidaya Mahkota Dewa
Mahkota dewa tergolong pohon yang mampu hidup di berbagai kondisi, dari dataran
rendah sampai dataran tinggi. Pohon ini mampu hidup di ketinggian 10—1.200
meter dpl (dari permukaan laut). Namun, pertumbuhannya paling baik jika ditanam
di ketinggian 10—1.000 meter dpl.
Sampai saat ini belum ada orang yang secara serius mengupayakan perbanyakan
mahkota dewa. Salah satu sebabnya mungkin karena pembudidayaannya yang memang
susah-susah gampang. Yang sudah diketahui dengan pasti, mahkota dewa bisa
ditanam di tanah pekarangan atau kebun, dan bisa juga ditanam di dalam pot.
Pohon ini akan tumbuh dengan sangat baik jika ditanam di tanah yang gembur
dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Pohon yang ditanam di dalam pot
pertumbuhannya tidak setinggi yang ditanam di kebun atau pekarangan.
Perbanyakan pohon bisa dilakukan secara vegetatif dan secara generatif. Dari
sekian cara perbanyakan vegetatif, hanya pencangkokan yang telah menunjukkan
keberhasilan. Dengan setek batang belum ada hasilnya.
Sebetulnya, pencangkokan agak sulit dilakukan karena batang mahkota dewa sangat
bergetah. Pencangkokan baru bisa dilakukan jika batang yang dikupas sudah mulai
mengering. Pencangkokan juga sebaiknya dibantu dengan krim hormon perangsang
pertumbuhan akar.
Hal yang perlu dilakukan dalam mencangkok adalah memberikan tambahan air bila
tak ada hujan. Kurangi cabang yang terlalu panjang dan banyak. Kurangi juga
daunnya bila terlalu lebat. Dalam waktu 2—3 minggu, akar batang yang dicangkok
sudah mulai tumbuh. Cangkokan bisa dipindahkan ke media penanaman setelah
usianya mencapai 6 – 8 minggu
Perbanyakan secara generatif dilakukan dengan biji. Perbanyakan dengan cara ini
paling banyak dilakukan karena memang paling mudah. Kelemahannya, pertumbuhan
pohon lebih lama.
Dalam perbanyakan dengan biji, mula-mula petik buah yang benar-benar sudah tua
atau matang di pohon, ambil bijinya yang tersembunyi di balik cangkangnya,
kemudian semaikan biji itu di tempat persemaian dengan media sekam bakar
dicampur dengan kompos. Setelah bertunas, pindahkan ke media penanaman
permanen, baik di pekarangan maupun di dalam pot.
Biji yang dipilih untuk disemaikan adalah biji yang benar-benar bagus. Ciri
biji yang bagus adalah berisi penuh saat dipegang, keras, tidak kempes, dan
tidak cacat dimakan ulat.
Saat penyemaian, perawatan yang perlu dilakukan adalah memperhatikan kelembapan
medianya. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan hand
sprayer atau semprotan yang lembut. Pemupukan tidak boleh menggunakan pupuk
kimia karena bisa mengurangi khasiat obatnya. Yang paling aman menggunakan
pupuk kompos atau pupuk kandang yang sudah tak berbau.
Tanaman dipindahkan ke media penanaman setelah berumur dua bulan atau
ketinggiannya sudah mencapai 10—15 cm. Cara memindahkannya dengan melubangi
bagian bawah polybag lalu memasukkannya ke lubang tanam. Setelah dipindahkan ke
media penanaman permanen, perawatan yang perlu dilakukan adalah menyiraminya
setiap hari dan memberikan pupuk kandang atau pupuk kompos dua minggu sekali.
Media penanaman di pekarangan atau kebun sama dengan media untuk tanaman buah
pada umumnya. Media penanaman di dalam pot adalah tanah, kompos atau pupuk
kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Pot yang digunakan
sebaiknya berukuran diameter 30 cm dan tinggi 40 cm. Bahannya bisa dari tanah,
plastik, kayu, atau kaleng.
Di samping memiliki kelemahan seperti disebut di atas, penanaman di dalam pot
memiliki banyak keunggulan. Yang paling menonjol adalah penempatannya yang bisa
dilakukan di mana pun. Bisa di dalam kamar, di atas kamar, di atas pagar, di
atas got, atau bisa pula di atas genting. Penanamannya pun bisa dilakukan
secara vertikultur. Penanaman secara vertikultur ini, di banyak negara seperti
Jepang dan Cina, menyumbangkan hasil pertanian yang cukup dominan.
Dalam umur 10—14 hari sejak biji disemai, daun-daun mulai tumbuh. Bunga mulai
kelihatan ketika pohon sudah berusia 8—12 bulan. Sementara itu, buah akan
muncul saat pohon berusia 10—12 bulan. Buah ini akan sangat bagus pertumbuhannya
jika penyiraman dilakukan dengan rutin dan teratur. Soalnya, buah mahkota dewa
memerlukan banyak air.
Buah bisa dipetik saat sudah berusia dua bulan. Saat itu buah sudah matang.
Cirinya, antara lain, kulit buah sudah berwarna merah marun dan berbau manis
seperti aroma gula pasir. Jika sudah matang, sebaiknya buah langsung dipetik.
Pemetikan jangan ditunda sebab buah bisa membusuk. Buah yang busuk kualitasnya
sudah menurun. Begitu juga dengan khasiatnya. Menurut hasil penelitian, buah
yang matang maupun mentah kandungannya sama. Hanya saja, jika akan dibuat
menjadi minuman instan hendaknya gunakan buah yang benar-benar matang.
Sebaliknya, untuk pengobatan sakit kanker, justru lebih baik memanfaatkan buah
yang masih mentah dan hijau.
Pemupukan
Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkualitas, sebaiknya hindari pemupukan
dengan menggunakan pupuk-pupuk anorganik. Cukup gunakan pupuk organik saja.
Pemakaian pupuk anorganik akan mempengaruhi kandungan kimiawi daun dan buah
mahkota dewa.
Pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan cara-cara yang sederhana misalnya:
1. membusukkan sampah rumah tangga dengan membuatkan lobang di tanah, bila
sudah penuh, uruk dengan tanah. Untuk mempercepat pembusukan bisa menggunakan
sirup manis 3 sendok makan. Bisa juga menggunakan bakteri M-Bio.Berikan tanda
ditempat tersebut, dua bulan kemudian sampah tersebut bisa dijadikan pupuk.
2. Bila tanaman sudah berumur sepuluh bulan perlu diberikan pupuk buah yang
alami buatan sendiri, yakni dengan membakar sampah organic yang kering, sekam
padi atau lebih bagus lagi sampah-sampah dari daun dan ranting Mahkota Dewa.
Pembakarannya jangan semua jadi abu, bila sampah atau sekam sudah nampak
membara segera siram dengan air, biarkan hingga dingin. Sebulan sekali tanah
disekitar pohon di dangir atau digemburkan., taburkan sampah organic di sekitar
pohon.
3. Bisa juga memanfaatkan kepala udang atau sampah ikan dan daging, tanam
disekitar pohon. Untuk menghindari semut bisa memanfaatkan biji Mahkota Dewa,
cengkeh dan tembakau yang dibuat tepung.
4. Keringkan tahi kambing, kotoran sapi, ayam dan kotoran hewan lainnya. Bila
sudah tidak berbau, kotoran tersebut bagus untuk pupuk.....